pErkEmbaNgan mUsiK poP

Industri Musik Pop Indonesia

Kini Menoleh Kontes Band

Jakarta – Serunya penyelenggaraan kontes band pendatang baru atau independen (indie) belakangan ini, kemungkinan bakal mengubah arah/cara merekrut para A&R (artist & repertoire) di berbagai label rekaman Tanah Air.

Perkiraan macam begitu, sudah lebih dulu terjawab dengan realitas beberapa runner-up Dream Band (kontes band kerja sama TV7-majalah Hai) yang kini berada di bawah lindungan label bergengsi, seperti contoh utamanya, Kapten di EMI Indonesia. Lalu, keberuntungan serupa juga dialami oleh mantan Juara Utama “A Mild Live Wanted” regional Jawa Barat, Vagetoz yang beruntung langsung direkrut Sony BMG Indonesia.
Apa pun kini peraturan ketat bagi finalis utama dan pemenang utamanya, tetapi celah intaian para A&R pada peserta kontes band semacam “A Mild Live Wanted” (yang melahirkan d’Masiv), “KFC Music Hit List” (Juliette dan Antique), dan “LA Lights Indiefest” (VOX dan d’Rinos), bisa menjadi kemungkinan menarik, karena selera pasar publik muda semakin sulit dimengerti.
Nyaris rata-rata A&R sekarang ini, sekadar menduga-duga perputaran minat musik anak muda Indonesia. Jadi, apa salahnya, menjajal kemungkinan merekrut kontestan “yang kalah” atau “calon pemenang” terlebih dulu.
Maka guna mencegah kenyataan itu terulang lagi, Krisna J Sadrach selaku ketua dewan juri “A Mild Live Wanted”, sampai perlu menggiring setiap tiga besar Regional (sebelum konser final) agar menentukan pilihan mundur apabila band bersangkutan telah teken kontrak dengan label tertentu.
Sebab, kini hukumannya tak sekadar hilang hak juara (seperti Vagetoz tahun lalu), tetapi juga denda sebanyak Rp 50 juta.
Vokalis Gigi, Armand Maulana, mengatakan bahwa saat ini sudah berbeda zaman. “Pemusik band sekarang lebih mendapat tempat, apalagi dengan kontes-kontes macam begini. Tetapi pada dasarnya tetap sama, tetap harus melakukan usaha yang terbaik.
Bagusnya, kini mereka lebih didukung label yang mem-backup pemenangnya. Sebaliknya kesulitan mereka saat ini adalah band sudah begitu banyak,” komentar Armand.
Pemetik bas Anima, Eldy yang ikut berkomentar tentang tren kontes seperti “A Mild Live Wanted”, mengatakan grup band Anima pasti ikut apabila kompetisi semacam itu sudah ada dari dulu.
“Beda keadaannya. Dulu kami harus bergerilya di label indie, dan mencoba membuka pasar yang baru di wilayah Jayapura, Sorong, NTT sampai dengan Atambua, yang berbatasan langsung dengan Timor Timur,” kenang Eldy.
“Dulu kami juga ikut-ikutan festival band (yang tak janjikan masuk label), seperti yang pernah pula dilakukan d’Masiv (pemenang utama “A Mild Live Wanted 2007”). Serta sering kali melewati tolakan dari label besar. Lagu ‘Bintang’ (yang kini laris sebagai nada dering ponsel) bahkan sempat hanya masuk album kompilasi,” ceritanya.

Kerja Keras
Kini nasib Anima jelas sudah berbeda, sejak mereka direkrut Sony BMG Indonesia sekitar dua tahun lalu dengan album bertajuk nama sendiri, yang muatan 80 persen terdiri dari lagu-lagu “masa lalu yang dulu ditolak label besar”, ditambah empat lagu baru.
Sebentar lagi, Anima yang bergitaris baru, Robby dan ditambah personel kibordis, Jijil (dulu cuma pemain tambahan) akan masuk studio rekaman dengan 11 lagu baru, plus satu singel religius. Mereka mengaku sadar dengan bangkitnya kembali unsur musik rock di dunia pop Indonesia. Jadi, akan lebih bermain beat yang baru dan menyegarkan.
Kerja keras dan selalu mengedepankan ide fresh, memang juga disarankan Armand Maulana selaku senior, bagi band yang kemudian menjulang naik (dari kompetisi kontes ataupun perjuangan demo dan pentas keliling).
Hal penting itu pula yang selama ini dilakukan grup band Manusia (David, Acil, Didi, Billy dan Yusi). Para personelnya terus berjuang dan mengasah kemampuan bermusik dari panggung kafe, pentas kecil, hingga menjadi pemain tambahan untuk beberapa proyek pemusik dan artis penyanyi papan atas.
Kepentingan pasar juga dipahami Manusia di album kedua bertajuk Manusia Biasa yang diedarkan Warner Music Indonesia, setelah debutnya, “Manusia Baru” terbilang dulu bernada idealis. “Lagi musim duren, ya jangan jualan mangga,” ujar gitaris Billy, otak pencipta lagu-lagu Manusia yang juga bekerja sebagai instruktur di sekolah musik Yamaha Music Indonesia.
Sebagai kelompok band, Manusia tentu menyimpan harapan di antara kesukaan publik muda negeri ini yang tertumpu lebih pada grup band.
Namun, di balik demikian banyaknya grup band yang berkiprah di industri rekaman, malah membuat finalis “Festival Pop Singer Pelajar 2004”, Yanne Panca Wardhani tetap yakin untuk berkarier solo (daripada jadi vokalis band), dan melanjutkan tekadnya di album kedua bertajuk namanya sendiri yang mempercayakan lagu-lagu ciptaan Dewiq, Arie “Bias”, Baliyanto dan Ressa Herlambang.

http://irnawijayanti09.wordpress.com/2008/07/04/perkembangan-musik-pop/

Tentang welovemusik

Mahasiswi UIN MALIKI Malang
Pos ini dipublikasikan di Musik Pop. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s